ETIKA BUANG AIR SESUAI ISLAM
Adab Buang Air sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Islam adalah agama yang mengatur semua aspek kehidupan manusia tanpa
terkecuali, sehingga seorang akan merasa kagum dan bergemah dalam
hatinya ketika melihat keindahan dan kerapian yang diajarkan oleh Islam.
Islam mengajarkan kaum muslimin hidup di atas kesucian, tidak seperti
opini yang dituduhkan oleh orang-orang kafir dan munafik di zaman
sekarang, bahwa Islam itu jorok, kotor dan tidak menjaga kebersihan.
Untuk menyangga tuduhan itu buletin GMI Mojokerto membuat makalah
tentang “Adab-adab Buang Air Sesuai Sunnah Rasulullah saw”. Dari sini
kita akan melihat keindahan Syari’ah Islam yang maha lengkap ini.
Di antara adab-adab buang air yaitu:
Ø Menjauh Dan Menutup Aurat Dari Manusia
عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَهَبَ الْمَذْهَبَ أَبْعَدَ
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah bahwasanya: ”Nabi saw apabila pergi ke
tempat pembuangan air, maka beliau menjauh”. [HR. Abu Dawud:
1/3,An-Nasa’iy: 1/34, dan Ibnu Majah: 1/397. Dishohihkan Al-Albaniy
dalam Shohih Al-Jami’: 4724]
Ø Tidak Buang Air Pada Genangan Air
وَعَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {
أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ } . رَوَاهُ أَحْمَدُ
وَمُسْلِمٌ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ
Dan dari Jabir dari
Nabi saw: ”Bahwasanya beliau melarang kencing pada air yang tergenang”.
[HR. Ahmad, Muslim, Nasa’ie dan Ibnu Majah]
Ø Berdo’a Sebelum Masuk ke Tempat Pembuangan Air
عَنْ أَنَسِ بْن مَالِكٍ قَالَ : { كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ : اللَّهُمَّ إنِّي
أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ } رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ
Anas ra berkata, “Dulu Rasulullah saw jika hendak masuk ke tempat
pembuangan air, maka beliau berkata (berdo’a) : ”Allahumma inniy
audzubika minal khubtsi wal khobaaits” (Ya Allah, sesungguhnya aku
berlindung kepada-Mu dari para setan laki-laki, dan perempuan). [HR
Jama’ah]
Doa ini dibaca ketika hendak masuk khola’ (tempat buang
air, kamar mandi/WC) sebagaimana yang dijelaskan oleh Bukhori dalam
kitab Adabul Mufrod, dia berdalil dengan hadits Anas bahwa:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ الْخَلَاءَ قَالَ :……
“Adalah Nabi saw apabila hendak masuk khola’ (tempat buang air) beliau berdoa:……”
Dan pendapat ini yang dipakai oleh kebanyakan ulama’. [Nailul Author:1/183]
Ø Tidak Menghadap Ke Arah Kiblat Atau Membelakanginya
وَعَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ النَّبِيِّ قَالَ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلَا
تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا
أَوْ غَرِّبُوا. رواه البخاري
Dan dari Abu Ayub al-Anshori, dari
Nabi saw beliau bersabda : “Jika kalian mendatangi tempat pembuangan
air (untuk buang air), maka janganlah menghadap kiblat, dan jangan pula
membelakanginya saat kencing, maupun berak”. [HR. Bukhori: 380]
Namun hadits ini berlaku apabila tempat buang air itu tidak ada satrah
atau tabir untuk pelindung diri dari manusia, apabila ada tabir atau
tutup untuk melindungi diri dari manusia maka tidak mengapa menghadap
kiblat, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra:
رَقِيتُ يَوْمًا عَلَى بَيْتِ حَفْصَةَ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَاجَتِهِ مُسْتَقْبِلَ الشَّامِ
مُسْتَدْبِرَ الْكَعْبَةِ .رَوَاهُ الْجَمَاعَة
“Aku menginap
semalam di rumah Khafsho, maka aku melihat Nabi saw pada hajatnya
menghadap ke arah Syam dan membelakangi Ka’bah[1]”. [telah
meriwayatkannya Jama’ah: 1/204]
Ø Menjaga Badan Dan Pakaian Dari Najis Tinja Dan Kencing
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ
وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي
بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ
Dari Ibnu Abbas dia berkata, Rasulullah saw pernah melewati dua kuburan
seraya bersabda: “Sesungguhnya kedua (penghuni)nya disiksa, sedang ia
tak disiksa karena perkara besar (menurut sangkaanya). Bahkan itu
(sebenarnya) adalah perkara besar. Adapun salah satu diantaranya, ia
melakukan adu domba. Adapun yang kedua, ia tidak berlindung dari
(percikan) kencingnya”. [HR. Muslim: 2/147/439]
Oleh karena itu
jangan sampai perkara yang kelihatannya sepele ini bisa menyebabkan
kita mendapat siksa kubur, namun sangat menyedihkan hingga pada hari ini
masih banyak saudara-saudara kita yang menyepelekan hal ini.
Ø Tidak Istinja’ (Cebok) Dengan Tangan Kanan
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْيُمْنَى لِطُهُورِهِ وَطَعَامِهِ وَكَانَتْ يَدُهُ
الْيُسْرَى لِخَلَائِهِ وَمَا كَانَ مِنْ أَذًى
Dari ‘Aisyah dia
berkata: “Adalah tangan kanan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
untuk wudhunya dan makannya; tangan kirinya untuk cebok, dan sesuatu
yang kotor”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya: 1/50]
Jadi tangan
kanan digunakan untuk sesuatu yang baik seperti makan dan minum dan
tangan kiri untuk cebok dan sesuatu yang bersifat kotor. Tidak seperti
orang yang jahil, mereka makan dan minum dengan tangan kiri dan bercebok
dengan tangan kanan.
Ø Beristinja’ (Cebok) Dengan Air
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلَاءَ فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلَامٌ
نَحْوِي إدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ .
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Anas bin Malik dia berkata, “Rasulullah
-Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah memasuki tempat pembuangan air.
Maka aku pun dan seorang bocah sebaya denganku datang membawa seember
air dan tombak kecil, lalu beliau pun ber-istinja’ (cebok) dengan air”.
[HR Bukhori dan Muslim]
Akan tetapi jika tidak mendapati air
maka diperbolehkan menggunakan tiga buah batu atau yang lainnya
sebagaimana hadits dari ‘Aisyah:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إلَى
الْغَائِطِ فَلْيَسْتَطِبْ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَإِنَّهَا تَجْزِي
عَنْهُ .رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ وَأَبُو دَاوُد
وَالدَّارَقُطْنِيّ وَقَالَ : إسْنَادُهُ صَحِيحٌ حَسَنٌ
Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Jika seorang diantara kalian pergi
buang air, maka hendaknya ia membawa tiga batu yang dipakai untuk
istinja’, karena (tiga) batu tersebut mencukupi baginya (untuk cebok)”.
[HR. Ahmad, Nasa’ie, Abu Dawud, Ad-Daraqutniy dan dia mengatakan hadits
ini shohih hasan]
Namun ada benda-benda yang dilarang oleh Rasulullah saw untuk digunakan bercebok yaitu tulang dan kotoran binatang.
لَا تَسْتَنْجُوا بِالرَّوْثِ وَلَا بِالْعِظَامِ فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنْ الْجِنِّ
“Janganlah beristinja’ (cebok) dengan menggunakan kotoran binatang, dan
tulang-belulang, karena itu adalah makanan saudara-saudara kalian dari
kalangan jin”. [HR. At-Tirmidzi]
Ø Membersihkan Tangan Seusai Istinja’ (bercebok)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى الْخَلَاءَ أَتَيْتُهُ بِمَاءٍ فِي تَوْرٍ أَوْ
رَكْوَةٍ فَاسْتَنْجَى قَالَ أَبُو دَاوُد فِي حَدِيثِ وَكِيعٍ ثُمَّ
مَسَحَ يَدَهُ عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ أَتَيْتُهُ بِإِنَاءٍ آخَرَ
فَتَوَضَّأَ
Dan dari Abu Hurairah, adalah Nabi saw jika mau
buang air, maka aku bawakan air dalam bejana atau timba kecil. Lalu
beliau beristinja’, kemudian menggosokkan tangannya pada tanah. Lalu aku
bawakan bejana lain, kemudian beliau berwudhu’”. [HR. Abu Dawud : 41]
Membersihkan tangan seusai istinjak (bercebok) ini tidak harus dengan
tanah, apabila ada sesuatu yang bisa untuk penggantinya sebagai
penghilang bau seperti sabun atau semisalnya maka tidak mengapa. Wallahu
a’lam
Ø Berdoa Ketika Keluar Dari WC
وَعَنْ عَائِشَةَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا خَرَجَ مِنْ الْخَلَاءِ قَالَ :” غُفْرَانَكَ” .
رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ
Dan dari ‘Aisyah ra
berkata: adalah Nabi saw Jika keluar dari WC, maka beliau berdo’a,
“GHUFROONAKA” (Aku memohon ampunan-Mu). [HR. Imam Lima kecuali Nasa’ie,
Nailul Author: 1/185]
Demikian aturan-aturan dalam Islam dalam
masalah buang air, semoga buletin ini bermanfaat bagi para pembaca dan
semoga dalam penulisan ini hanya semata-mata diniatkan untuk mencari
ridho Allah Ta’lah. Amien
الحمد لله ربّ العالمين
[1] Saat itu tempat pembuangan airnya menggunakan tabir.
Sumber : apple.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar